Minggu, 14 Desember 2014

ANALISIS PROSES PEMBELAJARAN KUANTUM TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI KELAS XI JURUSAN BAHASA MA AT-TAROKI MALANG

ANALISIS PROSES PEMBELAJARAN KUANTUM TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI KELAS XI JURUSAN BAHASA MA AT-TAROKI MALANG
Fina Zakiyah
(13150046)
ABSTRAK
Strategi pembelajaran Quantum Teaching adalah strategi pembelajaran yang berfokus pada proses dan siswa. Interaksi antara guru dan siswa serta proses pembelajaran yang tercipta berpengaruh besar terhadap efektivitas dan antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran. Model Quantum Learning adalah salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa karena dapat membangkitkan aktifitas kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa kelas XI jurusan bahasa MA At-Taroki Malang tahun
ajaran 2014/2015 dengan jumlah siswa 14 orang terdiri dari 5 laki-laki dan 9 perempuan. Dari hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas XI jurusan bahasa MA At-Taroki dipengaruhi oleh implementasi model pembelajaran kuantum dan konsep diri siswa yang mengikuti pembelajaran. Aktivitas siswa mengalami peningkatan karena semua siswa aktif dalam setiap KBM dan yang terpenting dalam setiap tes bersiklus ada peningkatan, sehingga siswa memberikan respon positif terhadap model pembelajaran Quantum Learning. Penelitian ini memberikan implikasi antara lain: 1) sebagai tenaga pendidik, guru seharusnya mengetahui konsep diri siswanya. 2) model pembelajaran quantum dalam implementasinya memerlukan tekad, inovasi, dan kesabaran guru dalam merancang pembelajaran.
Kata kunci: Quantum Learning, Hasil Belajar
A. Pendahuluan
Dengan melihat perkembangan pendidikan. Kualitas kehidupan suatu bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Titik pusat pendidikan adalah terjadinya perubahan. Bahkan secara etimologi, kata “pendidikan” mengacu pada seseorang yang keluar dari kegelapan atau kebodohan. Pendidikan dapat mencerahkan dunia dan meninggalkan kegelapan atau kebodohan masa lalu. Melalui akumulasi refleksi pengetahuan yang kritis, pengalaman baru, dan ujian diri, dapat mengarah ke
pertumbuhan dan wawasan pribadi,1 pendidikan adalah sebuah aset yang penting di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena bagaimana pun tidak ada bangsa yang maju tanpa diiringi pendidikan yang bermutu, dan sangat bervariasi dari tahun ke tahun yang terus mengalami perubahan, terutama dalam kegiatan belajar mengajar baik guru, maupun peserta didik, sehingga dalam mekalah ini sedikit kami mengangkat tentang implikasi proses pembelajaran dalam sekolah menengah yang mana sama-sama kita melihat proses belajar mengajar yang masih banyak kekurangan, dan terlalu banyak mementingkan dari segi kognitif, belum terlalu banyak pemahaman tentang cara mengembangkan potensi guru untuk menerapkan cara-cara belajar yang efektif, dan cara guru untuk mengembangkan potensi peserta didik dari segala aspek yang menginginkan perubahan dan pengembangan dengan adanya belajar, sehingga penting kita membahas sedikit tentang proses pembelajaran di MA At-Taroki Malang, untuk kita pecahkan bersama dalam mencari solusi terhadap mutu pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran di kelas rendah pada sekolah menengah harus memperhatikan karakteristik siswa yang akan menghayati pengalaman belajar sebagai suatu kesatuan yang utuh. Pembelajaran yang memisahkan penyajian mata pelajaran akan membuat siswa kelas rendah merasa kesulitan dalam belajar. Oleh karena itu, pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa agar siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna.
Pembelajaran dapat di artikan sebagai proses belajar mengajar yang melibatkan pendidik dan peserta didik, di mana dalam proses pembelajaran ini guna untuk meningkkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan ketrampiln siswa, kemampuan-kemampuan tersebut di kembangkan dalam pengalaman belajar, sehingga dapat pula di definisikan sebagai tehnik guru dalam menciptakan suasana belajar dengan kondusif nyaman dan teratur, yang memiliki tujuan prinsip, dan pegangan terhadap profesi sebagai pembelajar(guru). Dalam makalah ini tentang definisi pembelajaran kami lebih banyak membicarakan pembelajar(guru), sehingga dalam proses belajar mengajar
1 Murphy, J. W. & Rasch, D. 2010. Service-learning and authenticity achievement. Human Architectur: Journal Of The Sociologi Of Self-Knowledge. Hal. 115-124.
guru bertanggungjawab tidak terbatas atas keahlian dan kemampuan untuk pencapaian kecakapan-kecakapan tertentu yang di kuasai para siswa, untuk lebih ideal.
B. Analisis Proses Pembelajaran Kuantum Terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas XI Jurusan Bahasa MA At-Taroki Malang
Menjalin usaha belajar bersama guru dengan siswa akan membuat suasana belajar menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (pakem), sehingga kondisi tersebut kiranya akan memaksimalkan upaya belajar siswa diharapkan dapat memacu kreativitas guru dan meningkatkan hasil belajar siswa.
Strategi pembelajaran Quantum Teaching adalah strategi pembelajaran yang berfokus pada proses dan siswa. Interaksi antara guru dan siswa serta proses pembelajaran yang tercipta berpengaruh besar terhadap efektivitas dan antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran. Quantum Teaching berfokus pada hubungan yang dinamis dalam lingkungan kelas dengan interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar (DePorter, et al. 2007: 3). Strategi pembelajaran Quantum Teaching menekankan kegiatannya pada pengembangan potensi manusia secara optimal melalui cara-cara yang sangat manusiawi, yaitu: mudah, menyenangkan, dan memberdayakan. Setiap anggota komunitas belajar dikondisikan untuk saling mempercayai dan saling mendukung. Siswa dan guru berlatih dan bekerja sebagai pemain tim guna mencapai kesuksesan bersama. Dalam konteks ini, sukses guru adalah sukses siswa, dan sukses siswa berarti sukses guru. Quantum Teaching mencakup petunjuk spesifik, untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang rencana pembelajaran, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar (DePorter, et al. 2010: 33). Pembelajaran kuantum merupakan cara baru memadukan unsur seni dan pencapaian yang terarah, untuk segala mata pelajaran. Pembelajaran kuantum adalah penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya, yang menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar serta berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas-interaksi yang mendirikan landasan dalam kerangka belajar.2 Quantum merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik, menjadi sebuah
2 DePorter, B & Hernacki, M. 2001. Kuantum Learning: Membiasakan Belajar Nyman dan Menyenangkan. Penerjemah: Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa hal 77-78
paket multisensory, multi kecerdasan, dan kompatibel dengan otak, yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan siswa untuk berprestasi. Sebagai sebuah model pembelajaran yang segar, mengalir, praktis dan mudah diterapkan, serta menawarkan suatu sintesa dari hal-hal yang dicarikan cara-cara baru untuk memaksimalkan dampak usaha pengajaran, melalui perkembangan hubungan, pengubahan belajar, dan penyampaian kurikulum, untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, sehingga memudahkan proses belajar.3 Dengan quantum learning, guru dapat mengajar dengan memfungsikan kedua belahan otak kiri dan otak kanan pada fungsinya masing-masing. Otak kiri digunakan untuk berpikir mengenai hal-hal yang bersifat matematis dan ilmiah, sedangkan otak kanan mengurusi masalah yang abstrak dengan penuh imajinasi. Tiga kunci utama yang dapat dijadikan sandaran dalam pembelajaran quantum dengan format dinamis, yaitu quantum, pemercepatan belajar, dan fasilitas. Quantum learning adalah penggubahan bermaca-macam interaksi yang ada di dalam dan disekitar momen belajar. Interaksi-interaksi tersebut mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang dapat mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, serta dapat mempengaruhi kesuksesan siswa dalam belajar maupun dalam berprestasi pada kehidupannya kelak.
C. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan suatu puncak proses pembelajar. Hasil belajar tersebut terjad terutama berkat evaluasi guru, dan juga merupakan hasil suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.Belajar dapat membawa perubahan yang pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru. Dengan demikian, hasil belajar dapat diartikan sebagai perubahan kecakapan dan perilaku yang diperoleh setelah mengalami aktivitas belajar.4 Oemar Hamalik mengungkapkan bahwa evaluasi hasil belajar adalah seluruh kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh
3 DePorter, Bobbi; Reardon, Mark; & Nourie, Sarah Singer. (2007). Quantum Teaching, Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung: Mizan Pustaka. Hal 112
4 Sumadi Suryobroto, Proses belajar mengajar di sekolah, (Rineka Cipta: Jakarta 1997) hal 54
siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan5. Kegiatan evaluasi hasil belajar memiliki berbagai tujuan, yaitu untuk diagnostic dan perkembangan, untuk seleksi, untuk kenaikan kelas, dan untuk penempatan.6 Hasil belajar yang dimaksud dalam hal ini tentunya kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah memperoleh pengalaman belajar. Salah satu faktor yang mempunyai pengaruh pada hasil belajar adalah motivasi yang dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, dalam hal ini perilaku siswa untuk belajar. Hasil dapat diartikan sebagai sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan, dan sebagainya oleh usaha dan pikiran. Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor dari dalam diri siswa terutama menyangkut kemampuan yang dimiliki siswa. Faktor ini besar pengaruhnya terhadap hasil belajar yang akan dicapai.
D. Implementasi Proses Pembelajaran Kuantum Terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas XI Jurusan Bahasa MA At-Taroki Malang
Secara realitas pendidikan kita dewasa ini masih didominasi oleh paradigma pembelajaran yang lama, yakni pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas dan kegiatan pembelajaran masih dikuasai oleh guru sebagai sumber pengetahuan. Di samping ceramah menjadi metode pembelajaran yang utama sehingga suasana belajar menjadi tidak menarik, membosankan, dan menyebabkan siswa menjadi pribadi yang tidak kreatif, bahkan tidak dapat mengkrontruksikan pengetahuan sendiri sehingga hasil belajarnya tidak jelas (Ratumanan, 2004). Oleh karena itu pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher center learning) sudah seharusnya diganti dengan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center learning). Dengan demikian, diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta, konsep, atau teori, tetapi sebuah pendekatan yang mendorong siswa mengkontruksikan pengetahuan tersebut di dalam diri mereka sendiri. Lebih dari pada itu mengarahkan siswa lebih mengalami proses belajar dan membuktikan bahwa belajar itu
5 Hamalik, Oemar, (2002). Perencanaan pengajaran, Jakarta. bumi aksara hal 187
6 Dimyati & Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta hal 48
adalah proses yang menyenangkan (learning is fun). Quantum teaching merupakan
konsep belajar yang menuntut siswa mencari serta dapat memecahkan permasalahan dengan situasi dan dunia nyata siswa. Tugas guru adalah membimbing serta mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan sedikit informasi tentang inti atau langkah-langkah dari pembelajaran yang akan dilaksanakan, agar siswa tidak kaget dan bingung saat pembelajaran dilaksanakan. Guru menyampaikan secara lisan materi yang akan dipelajari dan tujuan yang akan dicapai. Selanjutnya guru menyampaikan apersepsi mengenai operasi pada bilangan bulat. Masih terdapat siswa yang tidak ingat tentang apersepsi yang diberikan, terlihat bahwa siswa tersebut tidak ikut menjawab pertanyaan saat guru bertanya. Saat guru menegur siswa tersebut, siswa menjawab dengan kata sudah lupa. Kemudian guru menyampaikan motivasi kepada siswa bahwa materi yang akan dipelajari ini bermanfaat bagi materi-materi selanjutnya, jadi siswa harus sungguh-sungguh dalam mempelajari dan mencermati materi ini. Untuk penataan lingkungan belajar yang nyaman, pemilihan kelompok dibebaskan kepada setiap siswa, tempat duduk siswa diatur dengan baik, sehingga siswa merasa nyaman saat belajar. Setelah dilakukannnya metode pembelajaran kuantum, hasil belajar pada siswa kelas XI jurusan bahasa MA At-Taroki setelah mengikuti metode pembelajaran Quantum Teaching lebih tinggi. Sebelum pelaksanaan perlakuan, mayoritas siswa memiliki rata-rata nilai yang tidak jauh berbeda. Setelah pelaksanaan perlakuan berupa penerapan metode pembelajaran Quantum Teaching pada proses pembelajaran, rata-rata nilai hasil belajar siswa meningkat cukup banyak. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
E. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan mengenai penggunaan model Quantum learning terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas XI jurusan bahasa MA At-taroki diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
a. Penerapan model pembelajaran Quantum Learning dapat meningkatkan aktivitas siswa. Penerapan model pembelajaran Quantum Learning mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang membangkitkan aktivitas siswa.
b. Sebelum pelaksanaan perlakuan, mayoritas siswa memiliki rata-rata nilai yang tidak jauh berbeda. Setelah pelaksanaan perlakuan berupa penerapan metode pembelajaran Quantum Teaching pada proses pembelajaran, rata-rata nilai hasil belajar siswa meningkat cukup banyak.
c. Respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran Quantum menunjukan kearah positif.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar, (2002). Perencanaan pengajaran, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Dimyati & Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumadi Suryobroto, (1997). Proses belajar mengajar di sekolah, Jakarta: Rineka Cipta.
DePorter, Bobbi; Reardon, Mark; & Nourie, Sarah Singer. (2007). Quantum
Teaching, Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung: Mizan Pustaka.
DePorter, B & Hernacki, M. 2001. Kuantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Penerjemah: Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa
Murphy, J. W. & Rasch, D. 2010. Service-learning and authenticity achievement. Human Architectur: Journal Of The Sociologi Of Self-Knowledge.

Selasa, 11 November 2014

Contoh text descriptive



Name : Fina Zakiyah
NIM  : 13150046

Decriptive text

Identification: Ki hajar dewantara is one of a education national figure who born in Yogyakarta at  second of may 2014. He was born with name Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. He died at  april 26th 1959, when his age is sixty nine years old.
Description : He is very diligent and energetic in organization social politics. Be known as activist movement independence of Indonesia, columnist, and pioner education for indigen community of Indonesia since period colony Belanda. Specific characteristic authoritarian ki hajar dewantara who confessed by coleage. He famous hard but not crude. Not only when stand at attention. In physical ki hajar dewantara have boldness which nonplus there in a event of general meeting in field “Ikada”.
 Description : Ki hajar dewantara is figure who stuggle for the sake of advancement and movement of Indonesia. He is the founder of taman siswa. Now, her birth commemorated in Indonesia as national education day. Part of motto “tut wuri handayani” become a slogan in Departement of national education. His name used as one of name ship war “KRI Ki hajar Dewantara”.


1.     What is text about? The text is about descriptive text
2.    What is Tense use? Example! Tense is simple present tense, example : He is very diligent and energetic in organization social politics
3.    Why do you choose it? Because, to describe something I have to choose a descriptive text.
4.    When did you get it? At Sunday, September 9ne 2014
5.    What do you think of figure? I amazed him so much. Although, he was born from circles of palace, but he want push forward indigen community with study knoeledge so much
.

Sejarah Perkembangan Ilmu nahwu dan Sharaf



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
linguistik adalah studi bahasa manusia secara ilmiah. Dengan mempelajari linguistik berarti kita mempelajari teori bahasa pada umumnya dan bukan teori bahasa tertentu. Dengan mempelajari linguistik kita bisa memahami keterangan tentang objeknya, tataran-tatarannya, struktur bahasanya, sejarahnya, dan teori tentang aliran yang berkembang dalam linguistik.
Kegiatan berbahasa manusia selain secara lisan juga melalui tulisan. Dalam berbahasa diperlukan berbagai jenis kata yang tentunya memiliki makna yang benar dan dapat dimengerti. Untuk mendapatkan makna yang berbeda dan mudah dimengerti tentunya dilakukan perubahan suatu bentuk (asal) kata menjadi bermacam-macam bentuk. Tanpa perubahan bentuk ini, maka kata yang berbeda tidak akan terbentuk. Untuk dapat lebih memahami perubahan bentuk, dapat dipelajari melalui ilmu tata bahasa yang menyelidiki bentuk kata dan perubahan-perubahannya. Yang sering disebut “Shorof” dalam linguistic yakni ”Morfologi” . Begitu pula dengan ilmu tata bahasa yang mempelajari seluk beluk kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Yang sering disebut “Nahwu” atau dalam kajian linguistic yakni “Sintaksis”.
 Melalui makalah ini, penyaji akan membahas kajian mengenai sejarah, perubahan bentuk kata dan bentuk bahasa yang terkecil yang menyelidiki bentuk kata dan perubahannya- perubahanya.  
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana sejarah perkembangan ilmu nahwu dan Shorof?
2.      Jelaskan pengertian ilmu nahwu!
3.      Jelaskan pengertian ilmu Shorof!
1.3 TUJUAN MAKALAH
1.      Mengetahui perkembangan ilmu nahwu dan Shorof.
2.      Memahami penjelasan tentang ilmu nahwu
3.      Memahmi penjelasan tentang ilmu Shorof.
BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian  Ilmu Sharaf
Sharaf (الصرف) menurut lughot adalah perubahan atau perpindahan, sedangkan menurut Istilah sharaf berarti ilmu yang dipelajari untuk mengetahui perubahan-perubahan bentuk kata yang bukan dari segi I'robnya, seperti mengetahui shahihnya, mudho'af atau ber'illatnya suatu kata dan gejala-gejalanya, baik berupa terjadinya pergantian, pemindahan, pembuangan atau perubahan syakal karena menghendaki ma’na yang dituju.[1]
Menurut Al-Ghulayayni, Sharaf adalah kaidah-kaidah yang menjelaskan kepada kita tentang bagaimana seharusnya keadaan kata-kata sebelum tersusun dalam kalimat.
Menurut Amin Ali as-Sayyid, pengertian ilmu sharaf ada 2 macam. Pertama, perubahan kata kepada bentuk yang berbeda untuk menyesuaikan jenis maknanya, seperti tashghir, taksir, tastniyah, jama’. Kedua, perubahan kata dari asal letaknya dengan tujuan lain dan tidak mengubah makna, seperti i’lal.
Sedangkan menurut Ali Bahauddin Bukhdud, ilmu sharaf adalah perubahan pada bentuk kata karena ada tujuan dalam segi makna maupun lafadz. Yang dimaksud dengan perubahan kata di sini adalah bentuk yang tertulis dari harakat, sukun, jumlah huruf, dan urutan huruf.
Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa ilmu sharaf adalah suatu kajian mengenai perubahan kata karena ada perbedaan tujuan dari segi lafadz maupun makna.
Menurut KH. Ahmad Warson Munawwir shorof sebagai cabang ilmu bahasa Arab mula-mula disusun dan dikembangkan oleh orang 'ajam (non Arab). Pengembangan ini dimaksudkan untuk memberi bekal bagi orang 'ajam bukan penutur asli (ghoiru nathiqin) agar dapat mempelajari dan kemudian mempelajari bahasa Arab. Bersama dengan nahwu dan ilmu-ilmu lainnya seperti Arudl, Balaghoh, dan ilmu-ilmu bahasa Arab lainnya, shorof terbukti mampu menjadi ilmu alat penguasa bahasa Arab, baik bagi orang-orang 'ajam , maupun bagi orang-orang Arab yang belum baik dalam bahasa Arab (a 'jam).

Ruang lingkup Ilmu Sharaf
Ruang lingkup ilmu sharaf terbagi menjadi lima komponen :
1.      Perubahan bentuk-bentuk kata, dari kata kerja benda menjadi sebaliknya. Seperti perubahan dari fi'il madhi menjadi fi'il mudhori', masdar, isim fa'il, isim maf'ul, isim makan, isim zaman dan alat. Perubahan seperti ini disebut tashrif istilahi.
2.      Perubahan bentuk bentuk kata, sesuai dhomir, dan kuantitas volume atau isi yang dikandungnya. Seperti kata benda yang berjumlah satu menjadi dua atau tiga buah. Atau kata kerja yang disesuaikan oleh pelaku apakah mudzakkar atau mu'annats dan jumlah pelaku. Perubahan seperti ini disebut tashrif lughowi.
3.      Penggantian, pembuangan, dan pemindahan, salah satu huruf pada sebuah kata atau juga penambahan.
4.      Sebuah syakal (harakat) yang terjadi pada suatu kata. Dalam sharf, perubahan syakal ini hanya terjadi pada selain syakal yang terakhir dalam sebuah kata. Jadi, sharf tidak membahas syakal terakhir pada suatu kata.
5.      Sifat pada sebuah kata, diantaranya :
-          Shahih-nya : yakni sebuah kata terbebas dari huruf 'illat.
-          Mudho'af-nya : yakni terdapat huruf ganda yang berjejer pada suatu kata.
-          Ke-'illat-annya : yakni terdapat huruf 'illat pada suatu kata. Huruf 'illat hanyaada tiga yaitu : ا, و, ي [2]

Manfaat mempelajari ilmu sharaf dalam ilmu bahasa
·         Mampu mengenali kata-kata dari bahasa arab serta memahami dengan benar makna kata-kata  itu.
·         Mampu membuat kata tertentu sesuai makna yang diinginkan
·         Mengetahui bentuk asal kata
·          Mengetahui huruf-huruf tambahan
·         Mengetahui ibdal
·         Mengetahui i’lal
·          Mengetahui idgham

Metode Penelitian Ilmu Sharaf
Metode penelitian ilmu sharaf lebih memfokuskan pada perubahan bentuk kata. Metode penelitian ini meliputi bentuk wazan, isytiqaq, men-syakal kosakata, i’lal, dan analisa huruf tambahan.[3]
·         Bentuk Wazan
Segala perubahan dalam ilmu sharaf bermula dari satu wazan, yakni fa’ala (فعل), yang selalu sama antara wazan dan mawzunnya, baik berupa harakat dan sukunnya. Tiga huruf dalam wazan tersebut dipenggal lagi menjadi fa fi’il, ‘ain fi’il, dan lam fi’il. Wazan tersebut akan terus berkembang seiring perubahan makna dan lafadznya.
·         Isytiqaq
Isytiqaq adalah asal-usul kata. Yang dimaksud dengan asal-usul kata di sini adalah menjadikan suatu kata dari kata yang lain karena ada hubungan makna antara keduanya.
·         Mensyakal Kosakata
Dalam kajian ilmu sharaf dibutuhkan pensyakalan huruf-huruf dalam setiap kata dan mengidentifikasi bentuknya, tanpa memperhatikan syakal huruf akhir, karena mengetahui harakat akhir kata termasuk dalam ranah kajian ilmu nahwu.
Adapun harakat yang ‘dilegalkan; dalam ilmu sharaf adalah fathah, dlammah, kasrah, dan sukun yang bersandar kepada ketiganya.
·         I’lal
Kajian ilmu sharaf tidak akan terlepas dari i’lal. I’lal adalah perubahan kata-kata yang di dalamnya terdapat huruf ‘illat. Kebanyakan i’lal terjadi ketika bentuk kata berupa ajwaf
·         Analisa Huruf Tambahan
Menurut para ahli sharaf, huruf tambahan terdiri dari ‘am dan khash. Segala tambahan yang masih dalam tataran asal bentuk kata disebut dengan ‘am. Adapun huruf tambahan yang khash terdiri dari 10 huruf, yang populer dengan istilah أويسا هل تنم atau سألتمونيها.

Adapun huruf tambahan pada suatu kata terbagi dalam tiga macam:
1.      Kata tersebut terdiri lebih dari tiga huruf dari asal bentuk kata.
2.      Huruf tambahan disebabkan adanya penumpukan (dobel) huruf asli dalam kata.
3.      Huruf tambahan dengan satu huruf atau lebih bukan dari asal kata.

KESIMPULAN
Ilmu sharaf adalah suatu kajian mengenai perubahan kata karena ada perbedaan tujuan dari segi lafadz maupun makna.
Bidang kajian ilmu sharaf meliputi perubahan bentuk-bentuk kata dari kata kerja benda menjadi sebaliknya, perubahan bentuk bentuk kata sesuai dhomir, penggantian, pembuangan, dan pemindahan salah satu huruf pada sebuah kata, sebuah syakal (harakat) yang terjadi pada suatu kata, dan sifat pada sebuah kata berupa shahih-nya, mudho'af-nya, dan ke-'illat-annya.




[1] Drs. H.A Idhoh Anas, M.A, Ilmu Sharaf Lengkap, (Pekalongan: Al-Asri, 2007), hlm. 3
[2] Drs. H.A. Idhoh Anas, M.A, Ilmu Shorof Lengkap, (Pekalongan: Al-Asri, 2007), hlm.2
[3] Dr. Amin Ali as-Sayyid, Fi Ilmi as-Sharfi, (Mesir: Darul Ma’arif, 1976), hlm. 20-31.